Friday , November 27 2020
Home / Tranding Topik / Tradisi tahun baru cina

Tradisi tahun baru cina

Tradisi tahun baru cina
Tradisi tahun baru cina

Tahun baru cina adalah merupakan tradisi dan kebudayaan dari orang orang tionghoa,pada intinya merayakan berkahirnya musim dingin menyambut musim semi.Imlek(tahun baru cina)bukan milik agama budhaa,konghucu,Taoizme,melainkan kultur budaya.

kenapa tahun baru cina Dirayakan di Vihara? padahal bukan Hari Raya Agama Buddha?

Tidak sedikit orang yg keliru mengartikan tahun baru cina sebagai hari raya agama Buddha karena banyak vihara yg merayakannya.

Padahal tahun baru cina bukanlah hari raya suatu agama, bukan juga hari raya agama Buddha, Tao, ataupun Khonghucu.

Tahun baru cina merupakan suatu perayaan tradisi menyambut musim semi & berakhirnya musim dingin yg dilakukan oleh suku bangsa Tionghoa di Tiongkok (China), yg dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari penggantian tahun.

Imlek berasal dari dialek Hokkian, artinya ‘kalender lunar’ (im= lunar atau bulan; lek = kalender). Dalam dialek Mandarin Imlek adalah ‘YINLI’.
Dengan demikian tahun baru Imlek artinya tahun baru yg dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

Tahun baru imlek adalah tahun barunya SEMUA orang Tionghoa, terlepas dari agama apa pun yang dianutnya. Orang Tionghoa yg sudah berpindah agama apa pun tetap Boleh merayakannya “Tanpa terkecuali !.”

Kesalah pahaman mengenai anggapan bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha / Khong Hucu / Tao oleh sebagian besar orang, khususnya di Indonesia, didasari oleh kurangnya informasi yg benar & melekatnya stigma & sikap penyamarataan bahwa warga keturunan etnis Tionghoa pastilah beragama Buddha, Tao atau Kong Hu Chu, & agama Buddha adalah agama khusus warga keturunan etnis Tionghoa.

Sehingga ketika umat Buddha Indonesia yg sebagian besar terutama di perkotaan adalah keturunan etnis Tionghoa merayakan Imlek, maka sebagian besar orang beranggapan bahwa Imlek adalah hari raya agama Buddha. Padahal bukan.

Dalam sebuah video yg diunggah di Youtube, Bhikhu Utamo menjelaskan,

Umat Buddha bukanlah agama yg menentang tradisi. Umat Buddha boleh menjalankan tradisi Imlek.
Ada yg suka menjalani tradisi Tionghoa, boleh dijalani. Bagi umat Buddha yg bukan berasal dari tradisi Tionghoa, tidak dijalankan juga tidak apa-apa karena bukan keharusan.”

“Agama Buddha tidak berhubungan langsung dengan tradisi Tionghoa, tetapi agama Buddha tidak melarang umatnya untuk melaksanakan tradisi umatnya masing-masing,” lanjut Bhante.

Bagi umat Buddha dari etnis Tionghoa diperbolehkan melaksanakan tradisi Tionghoa, sebaliknya umat Buddha dari etnis Jawa pun diperbolehkan melaksanakan tradisi Jawa. Begitu pula dari tradisi lain.

“Imlek adalah merayakan datangnya musim semi di China, tidak ada kaitannya dengan agama! Tapi karena yg beragama itu kan manusia, maka manusianyalah yang ingin merayakan dengan agamanya, termasuk umat Buddha yg keturunan Tionghoa.”

Meskipun bukan hari raya agama Buddha,  tradisi Imlek yang selaras dengan ajaran Buddha, misalnya tradisi hormat & mengingat jasa leluhur yg sudah meninggal.

Kebiasaan saling bersilaturahmi seperti halnya saat Lebaran bagi umat Muslim juga merupakan tradisi baik yg patut dilestarikan.

Bhante Uttamo menghimbau agar Imlek jangan hanya diisi dengan sembahyang & pesta makan-makan saja, melainkan dijadikan moment untuk merenung dalam setahun lalu apa yg sudah kita lakukan. Apa yang sudah baik dipertahankan & terus dikembangkan, apa yg buruk ditinggalkan.

Selamat merayakan Tahun Baru IMLEK bagi Saudara2 ku yang merayakannya. Semoga di Tahun Baru Imlek 2018, Selalu Sehat, Sejahtera dan Berbahagia …… Amin🙏🏼🙏🏼😊🌷

About winarnopambudi

Check Also

Peranan Akupresure(P3AI) dan PerP4RI dalam Family Gathering kemendikbud

Peranan Akupresure(P3AI) dan PerP4RI dalam Family Gathering kemendikbud Mau Tahu Rahasianya Kenapa P3ai dan perP4RI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now Button
error: Content is protected !!